rss

10.12.2009

Menghidupkan Naskah Iklan Radio

posted:



Ajaran CD saya yang sangat tertanam di benak saya semasa junior copywriter adalah radio itu seperti theatre of mind. Waktunya hanya 30 detik (masa itu) tapi kita harus "sakti" memainkan emosi pendengar. Pandai-pandailah membuat naskah iklan radio yang bisa menghanyutkan para pendengar radio alias tidak membuat mereka menggerutu karena iklan buatan Anda terasa membosankan atau "basi". Pelajaran kedua yang tidak mungkin saya lupakan saat menciptakan naskah iklan radio adalah pemilihan talent voice over. Sekreatif apapun naskah radio Anda tidaklah berarti bila dia tidak bisa dihidupkan dengan pemilihan aktor atau pengisi suara yang berkarakter tepat.

Selain dari buku dan film, imajinasi masa kecil saya banyak berkembang lewat peran Sanggar Prathivi. Saat itu Sanggar Prathivi banyak mengeluarkan rekaman suara yang menceritakan kisah tradisional Indonesia seperti Timun Mas, Ande Ande Lumut, Bawang Merah Bawang dan Putih. Maria Oentoe, namanya tidak terlupakan. Suaranya yang keibuan, benar-benar lekat di benak saya, membuat saya selalu beranggapan inilah suara ibu yang bijak yang mampu meluluhkan resehnya anak-anak nakal. Pengalaman saya mendengar dari kaset-kaset cerita dari Sanggar Prathivi adalah wujud nyata theatre of mind saya ketika kecil. Lewat kekuatan suara, saya bisa membayangkan seperti apa wujud nenek sihir, baik hatinya Bawang Putih, judesnya ibu tiri, besarnya raksasa.

Contoh lain, di masa jayanya iklan rokok Marlboro dan Bentoel, suara Tono Sebastian bagi saya saat itu benar-benar memberi nilai lebih iklan tersebut. Menimbulkan kesan, bagi saya yang anti rokok, kalau rokok ini memang untuk pria sejati. Bayangkan, orang yang anti rokok bisa berkomentar demikian? Kekuatan suara yang berkarakterlah penyebabnya.

Kembali ke cara memilih aktor untuk naskah iklan radio. Menurut saya, saat Anda membuat naskah itu sendiri sebaiknya Anda juga sudah membayangkan karakter yang ada. Misalnya, berbadan besarkah dia? Berapa usianya? Apa latar belakang sosial ekonominya? Orang Minang asli atau bergaya Cinta Laura? Tipe judeskah dia? Tipe suami takut istrikah dia? Berwibawakah dia? Remaja yang centil atau tegaskah dia? Bila Anda sudah yakin dengan karakter yang Anda buat, mulailah mencari jenis suara yang menurut Anda bisa menghidupkan karakter itu. Di sini peran diskusi antara copywriter dan produser radio pun mulai hidup. Biasanya studio rekaman yang bagus memiliki deretan pengisi suara yang bisa diandalkan. Seorang pengisi suara atau voice over talent berpengalaman bisa memainkan karakter yang berbeda, tentunya sesuai arahan naskah Anda. Tapi jangan menutup kemungkinan untuk mencoba talent baru. Namanya juga bekerja di bidang kreatif, ya harus kreatif juga mencari jenis suara yang berbeda dong? Kalau tidak, bisa-bisa iklan radio Anda terdengar sama dengan iklan yang diputar sebelumnya karena pengisi suaranya sama.

Sekadar berbagi. Ketika saya harus membuat kampanye iklan radio obat batuk sepanjang 60 detik, saya usulkan pada klien untuk membuat sejenis drama radio yang berlatar belakang kehidupan masyarakat pedesaan. Tokoh utamanya adalah Wak Haji yang kondang di kampung sebagai penengah segala kerumitan hidup masyarakat kampung itu. Maka saya pun mencari "aktor" yang karakter suaranya bisa melambangkan kebajikan dan penuh kesabaran. Contoh lain, iklan radio Pemilu 1999. Iklan yang diminta adalah menjelaskan kepada publik bahwa untuk mendaftar menjadi pemilih, panitia Pemilu menerima apapun surat keterangan sah Anda. Terpilihlah kisah seorang waria yang hanya memiliki ijasah kursus kecantikan. Karakter suara waria yang diinginkan akhirnya kami dapatkan dari seseorang yang sama sekali belum pernah mengisi suara untuk iklan radio. Namun beliau memang bekerja di salon kecantikan dan gaya berbicaranya memang kemayu. Waktu recording berlangsung cepat dan begitu hidup karena memang para aktornya begitu menjiwai, terlebih si aktor waria. Ketika iklan radio tersebut beredar, banyak orang yang tersenyum dan bisa membayangkan adegan percakapan si waria dan panitia pendaftaran. Alhamdulillah.

Semoga tulisan ini bisa membantu Anda untuk "menghidupkan" naskah iklan radio Anda. Pilihlah dengan benar pengisi suara untuk naskah iklan radio Anda agar saat diputar di radio nanti bisa membuat si pendengar tersenyum, terharu, atau terhanyut di tengah apapun aktivitas mereka. Jangan lupa, iklan radio adalah theatre of mind
.

Read More..

PENULISAN NASKAH IKLAN RADIO & TV

KREATIVITAS DALAM IKLAN
(1)

Frank Jefkins dalam buku Agustrijanto, Secara spesifik, batasan bahwa inti periklanan berkaitan erat dengan keahlian-keahlian khusus yang menyertainya yaitu kreativitas-kreativitas :

- Kreativitas untuk menarik perhatian.
- Kreativitas untuk memenangkan perhatian khalayak.
- Kreativitas untuk membangkitkan minat yang berlanjut pada tindakan konsumen.
- Kreativitas untuk pemilihan, penggunaan media-media yang paling efektif dari segi biaya.

Disimpulkan, periklanan adalah interaksi di antara 3 sisi ;

1. Pengiklan/pemasang iklan/produsen.
2. Biro Iklan.
3. Pemilik media yang akan memuat iklan.
4. Secara umum, setiap iklan harus memenuhi kriteria :

MENULIS IKLAN
1. Benar, pesan yang disampaikan tidak boleh ada unsur berbohong.
2. Bertanggung jawab, pengusaha iklan harus selalu siap menghadapi tuntutan jika yang
diiklankan ternyata menimbulkan kerugian bagi penggunanya.
3. Sesuai selera dan kesusilaan, artinya iklan harus akrab dengan etika dan susila yang berkembang di tengah masyarakat.
4. Iklan umpan, yakni iklan harus sesuai antara yang diiklankan dengan harga yang tertera.
5. Garansi dan Jaminan, bahwa kualitas produk harus dapat dibuktikan dan memang teruji.
6. Harga murah, yaitu iklan tdak boleh sembarangan menyatakan discount tanpa ada pertanggungjawaban atas data yang dimaksud yang bias disebut sebagai tindak penipuan.
7. Mutu palsu, maksudnya adalah iklan tidak boleh menjanjikan kualitas namun sebenarna mutunya tidak sepadan denan yang diinformasikan.
8. Testimonial, yakni kesaksian, bahwa jika menggunakan saksi maka saksi mata tersebut harus benar-benar berkompeten dan membuat pernyataan yang jujur adanya.
a. Berita pesanan untuk mendorong, membujuk khalayak ramai agara tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan.
b. Pemberitahuan kepada halayak mengenai barang dan jasa yang dijual, dipasang di media
massa ( seperti surat kabar dan majalah) atau di tempat-tempat umum. Sementara menurut kamus Inggris, Iklan adalah advertisement.

Komunikasi Periklanan
Pendekatan dengan Semiotika

(2)


Pengertian Semiotika

Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkji tanda. Tanda-tanda alah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia ini, di tengah-tengah manusia bersama-sama manusia. Semiotika, atau dalam istilah Barthes, semiologi, pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memakai hal-hal (thinks). Memakai (to sinify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukan dengan mengkomunikasikan ( to communicate). Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek-objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda (Barthes, 1988 : 17; kurniawan, 2001 : 53). Dalam Alex Sobur 15 : 2007.


Komunikasi Periklanan

Untuk mengkaji iklan dalam persfektif Semiotika, kita bisa mengkajinya lewat sistem tanda dalam iklan. Iklan menggunakan sistem tanda yang terdiri atas lambang, baik yang verbal maupun yang berupa ikon. Iklan juga menggunakan tiruan indeks, terutama dalam iklan radio, televisi, dan film.

Analisis Iklan

Untuk menganalisi iklan, kita juga bisa menggunakan atau meminjam model Roland Barthes, di mana ia menganalisis iklan Pasta “Panzani” berdasarkan pesan yang dikandungnya (Cobley & Jansz, 1999 : 47 – 48), yaitu :
Pesan Linguistik (Semua kata dan kalimat dalam iklan)
Pesan ikonik yang terkodekan (konotasi yang muncul dalam foto iklan – yang hanya befungsi jika dikaitkan dengan sistem tanda yang lebih luas dalam masyarakat), dan
Pesan ikonik tak terkodekan (denotasi dalam foto iklan)

Menelaah Iklan Televisi

Beberapa orang-orang lelaki berkumpul sambil berbincang. Latar temapat kumuh. Pemainnya adalah beberapa pelawak tua (antara lan pak Bendot (alm). Wajah mereka sering disorot secara close up. Seorang tua memegang stop kontak dan kipas angin listrik “Kalau subsidi dicabut, rakyat kecil mati angin.” / Tokoh laki-laki tua yang lain. “Rakyat yang mana ? Mbok jangan pake alasan rakyat kecil terus, deh ! Dapat punya disubsidi. Rakyat kecil dikipas terus, ya kepanasan ! Angin, angiiiin ! / Laki-laki kedua : “Jaman susah, kipasin dong orang yang lebih kecil, agar kita-kita ini dapat angin toh ! “ Laki-laki pertama “Kipaaaas, kipaaaas!”/ laki-laki kedua “Angin-angiiiin” / Laki-laki pertama : Panaaassss, panaasss! Laki-laki kedua “ Angiiiin, angiiiin!”

Analisa Iklan

Persfektif Pembuat Iklan : Pihak yang ingin mensosialisasikan kenaikan harga listrik.
Persfektif ahli mitos : Berlagak berfihak pada rakyat.
Persfektif Pemirsa : Iklan sebagai corong PLN. Melihat lahak lagu pembawa iklan (pelawak) Atau iklan yang kurang berbudaya karena berbicara sambil berbaring. Menurut Van Zoest (1991 : 70 ) dalam Alex Sobur, Sebuah teks, tak pernah terlepas dari ideologi dan memiliki kemmapuan untuk memanipulasi pembaca atau pemirsa ke arah suatu ideologi.
. Read More..

Chat "N"Testimony KLAN's



 

yng telah hadir

Be My KLAN's